AKU CINTA KAMU PANGERAN

Aku wati, bisa pacaran dengan si dia adalah sebuah kesepakatan, karena perbedaan di antara kita sangat jauh. Tapi aku bahagia punya pacar seperti dia.

Bulan September, tepatnya di kampus tercinta fakultas teknik. Aku dan teman-temanku sedang duduk dikursi depan jurusan teknik elektro, saat yang sangat menegangkan.Hari ini ujian praktek elektronika dasar, bagi siapa yang tidak lulus wajib membatalkan sks.
Sambil menunggu dosen masuk, ada wira yang sedang berjalan dari arah timur, dia menghampiri kursi tempat aku dan teman-temanku duduk. Dia langsung duduk didekatku dan berkata padaku “wat, kasihan banget sie dengan FS mu, teman satupun gak punya, gak ada komentar sama sekali”. Aku hanya diam, lantas aku menjawab “sebenarnya aku ingin sekali punya sahabat di kampus ini, gak harus banyak cukup satu aja yang bisa mengerti aku”.
Dari perkataanku tadi wira langsung tanggap “ kenapa gak aku aja yang kamu jadikan sahabatmu, aku bersedia jadi sahabatmu”. Aku tersentak kaget dari ucapan wira. Aku tak menghiraukan perkataannya tadi.
Dosen uda keluar dari ruang jurusan menuju ruang di mana aku dan teman-temanku praktek. Ku tinggalkan wira dari tempat duduk. Aku dan teman-temanku menuju ruang praktek.
“Wati, Andik, Heri, Ragil, kalian ujian praktek yang pertama, waktu 30 menit.” Begitulah kata dosenku.
Aku keluar dari ruangan dengan waktu 35 menit. Tinggal menunggu hasilnya deh, gumamku dalam hati.
Keesokan harinya, aku siap-siap mudik, liburan hari raya. Aku tak mempedulikan lagi urusan kampus sampai pengumuman hasil ujian yang kemarin aja aku tak tahu.
“1 message received”, dari siapa yaaa, kubuka sms di Hpku, “wat selamat yah kamu lulus ujian praktek elektronika dasar”. Ternyata sms dari wira, ku balas sms dia dengan suasana yang biasa aja, yang tak menunjukkan rasa senang padahal dalam hati aku senang banget dengan berita itu.
“1 message received” ada balasan dari wira “sepertinya kamu tidak senang dengan kabar ini”. Ku jawab aja sms darinya, “aku senang ko, terimakasih yaa uda ngasih tahu wati”.
Tak terasa uda lewat hari raya dan liburan uda selesai, saatnya untuk kembali ke kota di mana aku belajar.
“Akhirnya sampai kost juga”, aku terasa capek tapi tak aku hiraukan. Aku malah main ke tempat temanku, disana aku foto-foto bareng temanku dan nyobain laptop barunya.
Waktu uda menunjukkan pukul 20.30, saatnya aku harus balik kost.
Setelah sampai kamarku, kurebahkan tubuhku, tak terasa aku uda tidur. Aku merasa kedinginan dan……..
keesokan harinya aku uda gak bisa ngapa- ngapain tapi aku masih tidak mempedulikan tubuhku. Aku tetap membiarkannya, aku pikir mungkin aku kecapekkan, aku juga tak memberi kabar mama, aku hanya memberi kabar kakakku yang di Jakarta.
Aku sms wira dengan basi-basi, ternyata aku dibawakan oleh-oleh dari rumah kakeknya. Aku tanya sama dia dan dia menjawab “nanti kalo tak kasih tau bukan kejutan lagi donk…”, aku diam lantas aku mengalihkan pembicaraan, “aku sakit” itulah sms yang aku kirim ke wira, dia balas smsku “ sakit apa??, apa keluargamu uda ada yang tau kalo kamu sakit??” kujawab aja “tidak, aku gak ingin buat mereka khawatir”, dia melanjutkan “walo bagaimanapun keluargamu harus ada yang tau…,nanti siapa yang mengurus kamu di sini”. Aku tak membalas sms wira dan tak terasa aku uda ketiduran.
Malam ini aku uda gak kuat. Keesokan harinya aku minta tolong sama teman organisasiku untuk diantarkan ke rumah sakit.
JIH (Jogja International Hospital). Ku temui dokter umum dan menyatakan segudang keluhan yang aku derita, dan dokter menyarankan untuk tes darah.
Jarum suntik !!! darah !!!
Aku adalah orang yang paling takut dengan keduanya. Tapi mau gimana lagi.., hanya ada dua pilihan sembuh atau sakit. Mau gak mau aku harus ikuti saran dokter.
Tifus !!!
Itulah hasil lab yang dikatakan oleh dokter. Dokter mengatakan “mau diopname atau gimana??”. Aku tak pikir panjang, aku milih diopname.
Aku ditinggal kak riyan di ruang dokter spesialis penyakit dalam. Kak riyan sibuk cari kamar buatku. Dua Perawat datang menghampiriku, membawa botol infus. Aku deg-degan, tubuhku dingin.
Aku takut !!!
Itulah yang selalu membayangiku.
Aku tak mempunyai keberanian untuk melihatnya. Tangan kiriku dipegang kuat. Kulalui beberapa menit itu, jarum infus sudah terpasang di tangan kiriku.
Aku dibawa dengan kursi roda oleh perawat untuk memasuki kamar yang telah dipesan oleh kak riyan. Di lantai 3 tepatnya. Ku baringkan tubuhku dan mataku memandang keluar dari balik jendela. Ku lihat mobil-mobil yang di tempat parkir dan suasana siang hari yang sangat panas.
Ku ambil Hp dari meja dekat tempat ku membaring kan tubuh. Aku sms kakakku dan wira, bahwa aku sedang diopname.
Wira sangat kaget mendengar berita ini. Dia tanya “kamu berada di rumah sakit mana??”, tak ku balas sms darinya. Dia miscall dan terus miscall tapi tak ku angkat.
Sinar matahari mulai meredup. Suasana sore hari ku lihat di balik jendela, burung berterbangan pulang kesarangnya. Mobil-mobil yang memenuhi parkiran sudah mulai berkurang.
Wati……
Aku kaget, suara temanku nia bersama wira. Yang ku pikirkan hanyalah aku tak memberi tau wira maupun yang lainnya, tapi wira bisa tau aku dirawat di sini.
Tega ya kamu !!!
Itulah yang diucapan wira dengan raut wajah yang sedikit kecewa bercampur khawatir karena aku tak memberi tau tempat ku diopname. Ku pandang wajah wira dan aku tak mampu berkata apa-apa.
Hari uda mulai gelap. Wira dan nia pamit untuk pulang. “cepat sembuh ya wat..”. nia mendo’akan diriku. Aku mengucapkan “terima kasih“.
Hari ini adalah hari kedua aku dirawat.
infus berhenti mengalir dan darah mulai naik. Aku minta tolong pada wira yang sedang duduk menemani aku untuk memanggil perawat.
Perawat datang dengan membawa peralatan untuk membersihkan darah yang menggumpal diselang infusku. Aku tak berani melihatnya.
Tapi aku sempat melihat darahku yang bercampur dengan air infus, menetes di tempat tidurku. Aku menagis ketakutan melihat darah.
Wira tak tega melihatku menangis. Dia beranjak dari tempat duduknya dan mendekatiku. Dia mengambil tissue yang berada di atas meja, dan mengelap air mataku.
Waktu uda menunjukkan pukul 12.00, wira pamit untuk kembali ke kampus.
Hari demi hari kulalui di rumah sakit. Aku merasa bosan dan aku ingin cepat pulang.
Keesokan harinya dokter datang dan membawa kabar bahwa besok aku sudah boleh pulang.
Aku senang banget dengan kabar tersebut. Aku sms wira dan kebetulan besok wira libur kuliah. Wira bersedia untuk temani aku besok.
Hari ini aku beres-beres untuk pulang. Aku gak tau di boncegin siapa nanti pulangnya. Wira menawarkan diri dan bersedia untuk mengantarku pulang ke kost.
Syukurlah, udah sampai kost. Nia dan temannya pamit. Mereka akan meeting untuk mempersiapkan makrab (malam keakraban), yang akan dilaksanakan hari Sabtu dan Minggu.
Aku adalah salah satu dari panitia makrab. Dengan kondisiku yang baru keluar dari rumah sakit, aku ingin sekali ikut makrab.
Mendengar kalimat yang baru ku ucapkan, wira menatapku dan berkata “aku gak ingin kamu kenapa-kenapa lagi, aku ingin kamu banyak istirahat. Pokoknya aku tidak mengijinkan kamu untuk ikut”.
Terlihat dari tatapan matanya dan raut wajahya, menunjukkan ada sesuatu yang wira sembunyikan. Tapi aku gak tau. Aku merasa ada yang aneh dengan sikap wira padaku, aku merasa dia terlalu berlebihan.
Wira pergi dari hadapanku. Menyusul nia meeting.
Hari ini adalah hari Sabtu. Aku merasa kesepian di kost. Ku ambil hpku dan kubuka menu message. Aku mengetikkan pesan dan ku kirimkan pada wira yang sedang makrab. “hello pangeran??, wati ganggu gak??”
Ini adalah pertama kalinya aku memanggil pangeran pada seorang cowok.
Ku buka balasan sms dari wira. “gak kok. Wat kamu tau gak??. Aku menyukai seorang cewek, orangnya sederhana, lucu, menyenangkan, baik hati, pokoknya berkesan deh. Tapi aku tak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan isi hatiku padanya”.
Aku terdiam sambil berfikir “kira-kira siapa yaaa cewek yang disukai wira??, ahhh paling juga nia”, gumamku dalam hati.
Tok.. tok.. tok..
Ku buka pintu kamarku. Gak ada siapa-siapa.
”ba….!!!”
Wira muncul di hadapanku. Aku kaget dan sempat jengkel padanya.
“Wira kau membuatku kaget”.
Minggu Malam ini, dia membawa oleh-oleh dari makrab. “nih untukmu, yaa sorry, aku ingin bikin kejutan untukmu”
Kupersilakan wira duduk di kursi tamu. Aku dan wira berbincang-bincang. Tak lama wira minta undur diri, pulang kerumahnya.
Wira sering main ketempatku. Terkadang dia membawakan coklat untukku.
Suatu ketika aku meminta wira untuk menemaniku ke toko buku. Selesai dari toko buku, aku diantar pulang. Wira duduk di teras, sementara aku masuk ke kamar menaruh barang yang ku beli tadi.
Aku cepat-cepat keluar menemani wira di teras. Aku diam begitu pula dengan wira.
Dari suasana yang sepi itu, akhirnya wira berbicara “wat kamu mau gak jadi pacarku??”
Aku tersentak kaget, aku hanya diam. Lantas aku menjawab “bagaimana dengan cewek yang kau taksir itu??, emang dia siapa sie… nia bukan??”
Wira menatapku dan berkata “bukan nia, tapi…. kamulah orangnya, kamulah cewek yang ku maksud di sms itu”.
Aku diam dan ku persilakan wira untuk pulang.
Aku masuk ke kamarku dan aku menangis. Wira adalah sosok seorang cowok yang pernah ada dalam kenanganku.
Waktu terus berjalan, aku tak melihat sekarang pukul berapa, aku tak bisa tidur. Aku masih terbayang dengan ucapan wira tadi siang. Aku tak memberi jawaban padanya. Aku malah mengusirnya.
Perbedaanku dengan wira ibarat langit dan bumi. Aku buminya sedang wira adalah langitnya. Kita tak kan mungkin untuk bersatu.
Aku juga menyukai wira tapi aku tak mengungkapkan perasaanku padanya. Wira tak tau bahwa aku juga mempunyai perasaan yang sama seperti yang ia rasakan saat ini.
Aku ceritakan masalah ini pada teman-temanku. Banyak saran dari teman-temanku.
Yang ku inginkan adalah aku tak mau sakit hati untuk yang kedua kali.
Waktu terus berlalu, wira selalu menanyakan jawaban dariku. Aku Tak menjawabnya setiap wira menanyakannya. Aku hanya diam seribu bahasa.
Hari ini adalah tepat di hari ulang tahunku. Aku berencana ingin menerima wira sebagai kekasihku di hari ultahku. Tapi entah mengapa aku juga tak kunjung memberi jawaban yang pasti pada wira.
Selang dua hari setelah ultahku. Aku mengirim pesan pada wira “pangeran, gimana kalo kita sepakat pacaran??, jika kita ditanya teman-teman di kampus, kita sepakat menjawab bahwa kita pacaran??”
Wira membalas pesanku “baiklah kita sepakat untuk pacaran. Dan sepakat untuk menjawab ‘iya’ pada teman-teman di kampus bahwa kita pacaran”

Perihal

me and my mind

Ditulis dalam Story
One comment on “AKU CINTA KAMU PANGERAN
  1. myblogmyown mengatakan:

    cerita yang lucu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman
Maret 2009
S S R K J S M
« Sep   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Blog Stats
  • 107,790 hits
Top Clicks
  • Tak ada
Flickr Photos
It's a Family Affair...

Trains (over the bridge)

Burrowing Owl

Lebih Banyak Foto
%d blogger menyukai ini: